Cerita ini terjadi di saat aku masih di bangku SMP, aku tidak mengira akan mengalami hal yang demikian itu. Waktu itu aku akan mengahadapi ujian Semester, yang mana diwajibkan oleh pihak sekolah untuk melunasi segala kewajiban sebagai persyaratan untuk mengikuti ujian. Maka aku pun di beri uang oleh orang tuaku untuk melunasi segala kewajiban yang masih belum tuntas.

Hari itu hari Jum’at, pada saat akan membayar kewajiban itu, aku merogoh saku di seragam sekolah ku, namun aku tidak mendapati sejumlah uang yang diberikan oleh orang tuaku tadi pagi. Yang tersisa hanyalah seperempat dari uang yang di berikan orang tuaku yaitu hanya Rp.25000,- dan uang saku ku. Aku panik, padahal itu uang yang akan digunakan untuk melunasi semua kewajibanku, syarat untuk mengikuti ujian semester bagiku, namun sekarang uang itu raib. Hilang tanpa bekas, yang ada hanyalah seperempatnya dan uang sakuku yang masih utuh.

Mataku mulai berkaca-kaca, dan akupun tidak jadi membayar kewajibanku, untungnya saja batas pembayaran terakhir uang itu adalah besok. Pada saat istirahat, aku pun tidak berminat untukjajan, dan hanya menginfaqan uang jajan ku, aku benar-benar bingung, dan aku juga tidak mau membebani kedua orang tuaku, jadi aku memilih untuk diam, menyimpan semua masalah ku itu.

Di jalan pulang, aku terus berpikir kemana perginya uang ku itu, lalu tanpa sadar akau di kagetkan oleh seorang teman ku yang matanya sudah sembab, dia mengaku kalau duitnya hilang, dia tidak punya uang lagi untuk pulang, aku langsung kaget, kenapa bisa aku memiliki nasib sama dengannya, kehilangan uang pada waktu yang sama, lalu dia berkata bahwa dia ingin meminjam uangku, untuk pulang.

Aku masih memiliki seperempat dari uang yang di berikan orang tuaku tadi pagi, namun jika aku berikan padanya tentu akan semakin mengurangi jumlahnya, tapi di sisi lain, dia sangat membutuhkan, dia dalam kesulitan, di terancam tidak bisa pulang, sementara dia tergolong dari keluaraga yang kurang mampu, yang tidak memiliki telefon ataupun Hp untuk menghubungi keluarga nya. Jadi, aku mengambil keputusan untuk menyerahkan uangku sebanyak ongkos yang ia perlukan, yaitu Rp.10000,- aku ikhlas dan aku pun tidak berharap untuk di kembalikan.

Setibanya di rumah, akupun langsung ke kamar dan tidur, aku pusing memikirkan uangku yang hilang itu. Beberapa saat kemudian aku di bangunkan oleh ibuku, beliau berkata pamanku datang, dan akupun segera menemuinya.

Sebelum pulang, pamanku memberi ku uang saku sebanyak Rp.200.000,-. Aku melonjak kegirangan dan tak lupa aku bersyukur kepada Allah SWT. Dengan ini aku dapat mengganti uang ku yang hilang dan membayar keajibanku di sekolah tanap harus meminta kembali kepada otrang tuaku.

Dari sini aku dapat mengambil pelajaran bahwa, apabila kita suka menolong orang lain, apalagi yang orang yang dalam kesusahan dengan ikhlas, maka pertolongan Allah itu akan datang dari mana saja, tanpa kita tahu dan tanpa kita sangka. Uang yang aku berikan dengan ikhlas kepada temanku tadi diganti sampai dengan 20 kali lipat oleh Allah SWT. Subhanallah.

Ada sebuah kampung di pedalaman Tanah Jawa. Disitu ada seorang
perempuan tua yang sangat kuat beribadat. Pekerjaannya ialah membuat tempe dan menjualnya di pasar setiap hari. Ia merupakan satu-satunya sumber
pendapatannya untuk menyara hidup. Tempe yang dijualnya merupakan
tempe yang dibuatn ya sendiri.

Pada suatu pagi, seperti biasa, ketika beliau sedang bersiap-siap
untuk pergi menjual tempenya, tib a tiba dia tersedar yang tempenya
yang diperbuat daripada kacang soya hari itu masih belum menjadi, separuh
jadi.Kebiasaannya tempe beliau telah masak sebelum bertolak. Diperiksanya beberapa bungkusan yang lain. Ternyatalah kesemuanya belum masak lagi.

Perempuan tua itu berasa amat sedih sebab tempe yang masih belum
menjadi pastinya tidak akan laku dan tiadalah rezekinya pada hari itu. Dalam
suasana hatinya yang sedih, dia yang memang kuat beribadah teringat
akan firman Allah yang menyatakan bahawa Allah dapat melakukan
perkara-perkara ajaib,bahawa bagiNya tiada yang mustahil. Lalu diapun
mengangkat kedua tangannya sambil berdoa , “Ya Allah , aku memohon
kepadaMu agar kacang soya ini menjadi tempe . Amin”

Begitulah doa ringkas yang dipanjatkan dengan sepenuh hatinya. Dia
sangat yakin bahawa Allah pasti mengabulkan doanya. Dengan tenang perempuan tua itu menekan-nekan bungkusan bakal tempe dengan hujung jarinya dan dia pun membuka sikit bungkusan itu untuk menyaksikan keajaiban kacang soya itu menjadi tempe . Namun, dia termenung seketika sebab kacang tu masih tetap kacang soya.

Namun dia tidak putus asa, sebaliknya berfikir mungkin doanya kurang
jelas didengar oleh Allah. Maka dia pun mengangkat kedua tangannya
semula dan berdoa lagi. “Ya Allah, aku tahu bahawa tiada yang mustahil
bagiMu. Bantu lah aku supaya hari ini aku dapat menjual tempe kerana inilah
mata pencarianku. Aku mohon agar jadikanlah kacang soyaku ini kepada
tempe , Amin”.

Dengan penuh harapan dan debaran dia pun sekali lagi membuka sedikit
bungkusan tu. Apakah yang terjadi? Dia termangu dan hairan apabila
tempenya masih tetap begitu!! Semen tara itu hari pun semakin
meninggi sudah tentu pasar sudah mula didatangi ramai orang. Dia tetap tidak
kecewa atas doanya yang belum terkabul. Walaubagaimanapun kerana
keyakinannya yg sangat tinggi dia bercadang untuk tetap pergi ke
pasar membawa barang jualannya itu. Perempuan tua itu pun berserah pada
Tuhan dan meneruskan pemergian ke pasar sambil berdoa dengan harapan
apabila sampai di pasar kesemua tempenya akan masak.

Dia berfikir mungkin keajaiban Allah akan terjadi semasa
perjalanannya ke pasar. Sebelum keluar dari rumah, dia sempat mengangkat kedua tangannya untuk berdoa. “Ya Allah, aku percaya, Engkau akan mengabulkan doaku. Sementara aku berjalan menuju ke pasar, Engkau kurniakanlah keajaiban ini buatku, jadikanlah tempe ini. Amin”. Lalu dia pun berangkat Di sepanjang perjalanan dia tetap tidak lupa membaca doa di dalam hatinya. Sesampai sahaja di pasar, segera dia meletakkan barang-barangnya. Hatinya betul-betul yakin yang tempenya sekarang mesti sudah menjadi. Dengan hati yg berdebar-debar dia pun membuka bakulnya dan menekan-nekan dengan jarinya setiap bungkusan tempe yang ada.

Perlahan-lahan dia membuka sedikit daun pembungkusnya dan melihat
isinya. Apa yang terjadi? Tempenya masih belum menjadi!! Dia pun kaget
seketika lalu menarik nafas dalam-dalam. Dalam hatinya sudah mula merasa
sedikit kecewa dan putus asa kepada Allah kerana doanya tidak dikabulkan.
Dia berasakan Tuhan tidak adil. Tuhan tidak kasihan padanya, inilah
satu-satunya punca rezekinya, hasil jualan tempe . Dia akhirnya cuma
duduk sahaja tanpa mempamerkan barang jualannya sebab dia berasakan
bahawa tiada orang yang akan membeli tempe yang baru separuh menjadi.
Sementara itu hari pun semakin petang dan pasar sudah mulai sepi,
para pembeli sudah mula kurang.

Dia meninjau-ninjau kawan-kawan sesama penjual tempe , tempe mereka
sudah hampir habis. Dia tertunduk lesu seperti tidak sanggup menghadapi
kenyataan bahawa hari ini tiada hasil jualan yang boleh dibawa pulang. Namun jauh di sudut hatinya masih menaruh harapan terakhir kepada Allah, pasti Allah akan menolongnya. Walaupun dia tahu bahawa pada hari itu dia tidak akan dapat pendapatan langsung, namun dia tetap berdoa buat kali terakhir, “Ya Allah,berikanlah penyelesaian terbaik terhadap tempeku yang belum menjadi ini.”

Tiba-tiba dia dikejutkan dengan teguran seorang wanita.

“Maaf ya, saya ingin bertanya, Makcik ada tak menjual tempe yang
belum menjadi? Dari tadi saya sudah pusing keliling pasar ini untuk
mencarinya tapi masih belum berjumpa lagi.” Dia termenung dan terpinga-pinga
seketika. Hatinya terkejut sebab sejak berpuluh tahun menjual tempe ,
tidak pernah seorang pun pelanggannya mencari tempe yang belum
menjadi. Sebelum dia menjawab sapaan wanita di depannya itu, cepat-cepat dia berdoa di dalam hatinya”Ya Allah, saat ini aku tidak mahu tempe ini
menjadi lagi. Biarlah tempe ini seperti semula, Amin”.

Sebelum dia menjawab pertanyaan wanita itu, dia membuka sedikit daun
penutup tempenya. Alangkah seronoknya dia, ternyata memang benar
tempenya masih belum menjadi! Dia pun ra sa gembira dalam hatinya dan
bersyukur pada Allah. Wanita itu pun memborong habis kesemua tempenya yang belum menjadi itu. Sebelum wanita tu pergi, dia sempat bertanya wanita itu, “Mengapa hendak membeli tempe yang belum jadi?” Wanita itu menerangkan bahawa anakn ya yang kini berada di England teringin makan tempe dari desa. Memandangkan tempe itu akan dikirimkan ke England ,si ibu tadi kenalah membeli tempe yang belum jadi lagi supaya apabila sampai di England nanti akan menjadi tempe yang sempurna. Kalau dikirimkan tempe yang sudah menj adi, nanti di sana tempe itu sudah tidak elok lagi dan rasanya pun kurang sedap. Perempuan tua itu pun kehairanan dan berfikir rupa-rupanya doanya sudah pun dimakbulkan oleh Tuhan…

Moral:

Pertama: Kita sering memaksakan kehendak kita kepada Tuhan sewaktu
berdoa, padahal sebenarnya Tuhan lebih mengetahui apa yang kita
perlukan dan apa yang terbaik untuk diri kita.

Kedua: Sentiasalah berdoa dalam menjalani kehidupan seharian kita
sebagai hambaNya yang lemah. Jangan sekali-kali berputus asa
terhadap apa yang dipinta. Percayalah bahawa Tuhan akan mengabulkan doa kita sesuai dengan rancanganNya yang mungkin di luar jangkaan kita.

Ketiga : Tiada yang mustahil bagi Tuhan

Keempat : Kita sering ingin Allah memenuhi hak kita sedang kita tidak
pernah mahu memenuhi hak Allah seperti menjaga SEMBAHYANG 5 WAKTU ,menyegerakan solat, berkata-kata perkara yang berfaedah dan berpesan ke arah kebaikan…oleh itu, hantarlah kepada sahabat yang lain agar
kebaikan boleh sama dikongsi. Mudah-mudahan Allah suka dengan apa
yang kita buat( “,)..